Wednesday, February 27, 2019

Dan takut lah
Dan risau lah
Karena engkau manusia
Nuranimu mencipta rasa
Ragamu nyata
Hatimu bisa berkata

Kemudian jangan lah takut
Kemudian jangan lah risau
Bukan kah apa yang melewatkanmu
Tiada ditakdirkan untukmu
Dan karena bukankah yang ditakdirkan untukmu
Tiada akan pernah melewatkanmu

Man shabara zafira

Tuesday, February 26, 2019

Takut itu normal
Saya yakin setiap orang, siapapun itu pasti pernah merasakan takut.
Takut ini, takut itu, takut apapun.
Hanya yang membedakan, lebih banyak takut akan apanya.

Jangan takut untuk merasa takut
Dan begitulah manusia disempurnakan
Takutmu menjadikan tindakanmu bijaksana
Takutmu menjadikanmu rendah hati
Takutmu membuatmu berusaha

Jangan takut pun untuk mengalahkan rasa takut
Agar takut tidak menakutimu sepanjang usia

Satu hal yang takut aku pikirkan
Apakah setiap orang, semua, pernah takut kehilangan?

Monday, February 11, 2019

Hujan ini hanya menambah rindu yang tak tuntas

Rindu ini terbalas
Sang kasih terus mengukir senyum pada paras

Hanya jarak yang sedang membuai
Jeda waktu sedang menggoda melambai
Menguak beriak hausnya temu
Mengerat teriak halusinasi rindu

Hujan ini deras
Hanya membuat rindu menjadi tak tuntas
Menjadi panjang dan tanpa batas
Bisakah ku pintas?

Sunday, February 10, 2019

Pada dingin ku menyerah
Pagi yang dibuat basah
Hujan yang kesah pada serasah

Pada dingin ku menyerah
Dan aku tenang
Dari semua kenang

Pada dingin ku menyerah
Meninggal khayal di ufuk fana
Pada mimpi semu yang meninggal lena
Pada ego yang tak berguna

Pada dingin ku menyerah
Aku hanya ingin terlelap
Sampai hari gelap
Dan gelap kembali kilap

Pada dingin
Aku tenangkan semua
Aku serahkan semua

Thursday, January 10, 2019

Bagai siang yang memerah
Hati ini marah
Fana pada arah
Tanpa henti lantun sendiri tuk berhenti usah
Tapi gundah dalam serah
Benar membuat arang rasa patah

Dan bukankah Tuhan
Selalu berikan apapun jalan
Entah kesempatan entah tujuan
Maka bolehkah aku Tuhan
Memohonkan kalbu tanpa keraguan
Bolehkah aku mintakan
Penerimaan
Dan
Menerimakan

Saturday, June 22, 2013

Untold words

Dulu.
Ya dulu
Pernah aku menjadi seorang bodoh pemegang prinsip mutlak bahwa dalam 1 ya satu, tidak ada yang dua apalagi tiga. Sebodohnya prinsip itu di dunia penuh sandiwara ini, aku tetap bangga menjadi seorang yang tak perlu bermain di banyak permainan. Ah, bukan, bukan permainan, aku tak pernah bermain-main. Seperti lebah yang mempertaruhkan nyawanya dalam sekali sengat. Tapi berkali-kali pula prinsip itu menjadi onggokan rongsokan kata-kata dan bualan. Ya, para pengkhianat sampah yang hanya mementingkan keegoisannya sendiri itu. Berkali kali kusalahkan mereka, ya orang lain itu. Pesandiwara buruk yang membuatku muak, yang tak kupungkuri adalah yang memang aku perjuangkan.

Tapi tidak, dunia mengajarkanku, orang lemah yang hanya bisa membicarakn kebenaran itulah bualan yang sebenarnya. Tapi...
Ya prinsip mengatakan bahwa kebenaran melahirkan kekuatan, prinsip lain mengatakan kita harus kuat untuk menegakkan kebenaran. Arrggghhhh....
Dunia macam apa ini, dunia penuh drama, penuh caci puji entah mana yang realita mana yang dusta, yang membawa bahagia yang membawa derita, sama saja semua. Tumpukan omong kosong yang bisa kau sebut, tumpukan sikap bohong yang bisa mereka tampakkan.

Yah, persepsi tidak lahir dalam semalam sehari, pengalaman yang membuatnya. Kukira semua itu percuma, kukira sudah terlalu banyak pundi-pundi dusta, kukira memang terlalu banyak noda pengiris miris.

Tidak, aku tahu dengan pasti masih ada mereka penjunjung prinsip mutlak. Aku melihatnya, aku mendengarnya, aku mempercayainya, dan bahkan aku bersamanya.

Tapi beginilah sayang Tuhan, memberikan yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. Sedari ku sadar ketidaksamaan ini lah laut lintas luas tak terbatas yang harus kusebrangi.

"Why do you do impossible thing?"

Justru karena tidak mungkin lah maka enyah kalian suara lemah tong kosong, orang lemah penganggap benar. Hanya orang kuat yang mengerti, dan aku kuat!

Ya, mungkin padang bunga yang pernah dilewati sekian banyak, tapi saat ini aku tak mampu mengucap apapun, bukan tak bisa kulukis, tapi melihatku pun semua bisa melihatnya, aku bahagia.

Beginilah dunia fana, kalau angin menyapu lembut, tapi ombak karang jujur, bahwa sesuatu yang tidak bisa manusia lakukan, bisa Tuhan lakukan.

Sesekali aku ingin menjadi manusia biasa :
"mengapa harus ada perpisahan ya?"
"Mengapa ada ketidaksamaan?"
"Mengapa waktu dan jarak tega menjadi pemisah sejati yang terlalu sulit untuk dikalahkan?"
"Mengapa selalu begini?"
"Mengapa rasa ini tak bisa diteruskan"

 Tuhan selalu punya jalan. ;)

Wednesday, October 17, 2012

untitle

Menebak mungkin artinya berlari
Menganggap mungkin suasananya akan pergi
Merasa mungkin saja itu cuma ilusi

Tapi peduli apa
Ini dunia bukan sekedar fana
Punya cara punya bahasa dan pula impian nyata
Bukankah menyerah itu lelah
Kalau ini basah tidakkah perlu gerah
Atau mungkin tawa ini hiperbola

Tidak
Dia, panggil saja waktu
Tegas selalu di depan sana
Membuka semua
Memaksa ataupun sengaja